Sisi Lain Adopsi AI di Kampus: Mengapa Faktor Manusia Masih Menang Melawan Algoritma

Di era digital saat ini, kehadiran Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT atau Gemini telah mendisrupsi berbagai lini kehidupan, termasuk bangku perkuliahan. Banyak orang berasumsi bahwa semakin canggih sistem atau semakin akurat konten sebuah tools AI, maka mahasiswa akan semakin puas menggunakannya. Namun, benarkah demikian di realitas lapangan?

Sebuah studi ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Discover Sustainability (2026) oleh Akhmad Habibi, K. A. Rahman, Robi Hendra, Supian Supian, Turki Mesfer Alharmali, Mohd Sofian Omar Fauzee, Hamdy Abdullah, I Wayan Sumandya dan Edi Surya Negara memberikan temuan mengejutkan mengenai adopsi AI di kalangan mahasiswa Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera.

Berikut ulasan mendalam mengenai apa yang sebenarnya membuat mahasiswa puas dan terus ingin menggunakan teknologi AI dalam studi mereka.

Membedah Metodologi Penelitian

Penelitian berskala besar ini mengintegrasikan tiga model teoretis sekaligus: Knowledge Management (KM), Information Systems (IS) Success Model, dan Expectation-Confirmation Model (ECM). Tujuannya adalah melihat bagaimana ekosistem teknologi dan manusia saling memengaruhi kepuasan serta niat mahasiswa untuk terus menggunakan AI.

  • Sampel Penelitian: 893 mahasiswa (dengan 805 respons valid) dari enam universitas negeri terkemuka di Sumatera.

  • Profil Responden: Mayoritas adalah perempuan (62,5%), berusia di atas 21 tahun (75%), dan mengambil program studi Ilmu Sosial (60,9%).

  • Representasi Wilayah: Responden tersebar di beberapa provinsi, dengan proporsi terbesar dari Lampung (35%), Jambi (20%), dan Palembang (18,8%).

  • Fakta Unik: Mayoritas mahasiswa yang disurvei menggunakan versi gratis (free version) dari tools AI yang tersedia.

Temuan Utama: Kualitas Dosen dan Manajemen Pengetahuan adalah Kunci

Analisis data berbasis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menghasilkan poin-poin penting yang mematahkan asumsi awam mengenai adopsi teknologi:

1. Kualitas Bimbingan Dosen (Instructor Quality) Sangat Vital

Faktor yang paling signifikan memengaruhi kepuasan mahasiswa bukan terletak pada AI itu sendiri, melainkan pada antusiasme, arahan, dan komunikasi dari dosen mereka terkait penggunaan AI (p = 0,025). Ketika dosen mampu memberikan panduan etis dan menunjukkan cara memanfaatkan AI secara produktif, mahasiswa merasa lebih terbantu dan puas.

2. Proses Knowledge Management Berjalan Sukses

Mahasiswa merasa teknologi AI sangat membantu mereka dalam empat aspek manajemen pengetahuan, yang semuanya terbukti meningkatkan kepuasan secara signifikan (p = 0,000):

  • Knowledge Acquisition (Akuisisi Pengetahuan): AI mempermudah pencarian referensi dan pemahaman materi kuliah.

  • Knowledge Application (Aplikasi Pengetahuan): AI mempercepat penyelesaian tugas-tugas akademik.

  • Knowledge Sharing (Berbagi Pengetahuan): AI memfasilitasi diskusi dan kolaborasi antar-mahasiswa.

3. Konfirmasi Ekspektasi (Confirmation)

Sesuai dengan teori ECM, ketika performa tools AI berhasil memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi awal mahasiswa dalam belajar dan meneliti, tingkat kepuasan mereka otomatis melonjak tajam. Kepuasan inilah yang menjadi prediktor terkuat bagi mereka untuk terus menggunakan AI di masa depan (β= 0,841).

Plot Twist: Mengapa Kualitas Konten dan Sistem Teknis Tidak Berpengaruh?

Ada temuan menarik dalam uji hipotesis penelitian ini. Hipotesis H1, H2, H3, dan H5 justru ditolak. Artinya:

  • Kualitas konten AI (Content Quality) tidak berpengaruh signifikan pada kepuasan (p = 0,372).

  • Kualitas sistem teknis (Technical System Quality) tidak berdampak langsung pada kepuasan (p = 0,888).

  • Persepsi kegunaan (Perceived Usefulness) juga tidak otomatis membuat mahasiswa merasa puas (p = 0,401).

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Para peneliti mengaitkan anomali ini dengan dua faktor utama:

Faktor Ekonomi (Akses Gratis): Karena mayoritas mahasiswa menggunakan AI versi gratis, mereka memiliki keterbatasan akses terhadap fitur premium yang lebih stabil dan konten yang lebih akurat. Alhasil, mereka tidak terlalu menuntut kualitas sistem atau konten yang sempurna; selama alat tersebut bisa digunakan untuk membantu tugas harian, mereka sudah merasa cukup.

Faktor Budaya Kolektivitas: Budaya Indonesia yang memiliki power distance tinggi membuat peran figur otoritas (seperti dosen) dan interaksi sosial (berbagi pengetahuan dengan teman) jauh lebih penting daripada fitur intrinsik dari teknologi itu sendiri.

Implikasi untuk Masa Depan Pendidikan di Indonesia

Hasil riset dari Habibi et al. (2026) ini membawa pesan penting bagi pembuat kebijakan di perguruan tinggi:

  • Jembatani Digital Divide: Pemerintah dan pihak universitas perlu merancang kebijakan atau menyediakan akses AI premium yang terjangkau bagi mahasiswa di daerah guna memastikan inklusivitas pendidikan (mendukung Sustainable Development Goal / SDG 4).

  • Pelatihan untuk Pengajar: Karena kualitas dosen memegang peran sentral, pelatihan integrasi AI dan literasi digital bagi para pengajar harus menjadi prioritas utama.

  • Integritas Akademik & Etika: Institusi harus memperketat regulasi mengenai plagiarisme dan panduan penggunaan AI yang transparan agar teknologi ini tidak disalahgunakan untuk kecurangan akademik.

Kesimpulan

Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak optimal tanpa adanya sentuhan kemanusiaan (human-AI collaboration). Di wilayah Sumatera, kepuasan mahasiswa dalam menggunakan AI terbukti bukan karena sistemnya yang tanpa cela, melainkan karena kehadiran dosen yang adaptif serta kemampuan alat tersebut dalam mendukung ekosistem berbagi pengetahuan di kampus.

Referensi:

Habibi, A., Rahman, K. A., Hendra, R., Supian, S., Alharmali, T. M., Fauzee, M. S. O., Abdullah, H., Sumandya, I W., & Negara, E. S. (2026). Satisfaction and intention to use AI tools among Indonesian university students in Sumatra. Discover Sustainability, 7, 477. https://doi.org/10.1007/s43621-026-02745-5

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *